Rabu, 28 September 2011

Aneh Kecelakaan Kapal Dianggap Biasa

KITA semua tersentak ketika terjadi serangan teror bom di Solo. Namun ketika sebuah kapal motor terbakar di Tanjung Perak, Surabaya, kita sampai tersentak, pasti ada yang salah dengan kepekaan kita. Apalagi dalam musibah itu banyak penumpang yang menjadi korban.

Lebih memprihatinkan lagi jika tidak ada rasa bersalah dari otoritas pengelola angkutan umum. Padahal pada peristiwa terbakarnya KM Kirana IX sedikitnya ada delapan penumpang yang tewas terbakar.

Kecelakaan kapal laut hampir terjadi setiap hari beberapa hari terakhir ini. Kalau tidak terbakar kapal tanker, terbakar kapal penumpang atau juga terjadi tabrakan antarkapal. Dan setiap kali terjadi musibah di tengah laut selalu jatuh korban.

Memang benar dua pertiga bagian dari negeri ini berupa laut. Namun kalau karena itu kita bisa membenarkan atau memahami terjadinya kecelakaan  angkutan laut, itu alasan yang tidak bisa kita terima.

Justru karena negeri ini sangat tergantung kepada jalur angkutan laut, kita harus memastikan semua bisa berjalan dengan baik dan aman. Kita harus bisa menjamin bahwa sistem angkutan laut itu bisa diandalkan.

Bukan sebaliknya kita membiarkan angkutan laut tidak tertangani dengan baik. Kita membiarkan angkutan laut berjalan seadanya. Padahal kita tahu pengguna angkutan laut jauh lebih besar dari pengguna angkutan darat dan angkutan udara.

Inilah yang benar-benar sangat memprihatinkan diri kita. Tidak ada kata maaf dari yang namanya Menteri Perhubungan atas berbagai musibah yang terjadi secara beruntun. Tidak ada penjelasan tentang langkah perbaikan yang sedang dan akan dilakukan.

Sungguh kita sedang melihat pejabat yang tidak memiliki hati. Kecelakaan hanya sekadar dilihat sebagai musibah, jumlah penumpang yang meninggal dan luka-luka hanya dianggap sebagai data statistika semata.

Apalagi kecelakaan yang terjadi pada transportasi umum hampir terjadi di semua moda yang ada. Kecelakaan pada angkutan darat dan juga angkutan udara tidak bisa dikatakan kecil. Jumlah korban yang diakibatnya pun sangatlah besar jumlahnya.

Tanpa ada kemauan untuk mengaudit sarana transportasi yang ada, maka kecelakaan akan terus terjadi. Jangan lupa ketika kecelakaan terjadi maka yang menderita banyak orang. Istri kehilangan suami, suami kehilangan istri, anak kehilangan orangtua, atau orangtua kehilangan ada.

Padahal tanggung jawab dari negara, selain memberikan jaminan pendidikan, jaminan kesehatan, juga jaminan keamanan dalam bepergian. Negara memiliki kewajiban untuk menjamin pengelolaan angkutan umum berjalan dengan baik.

Memang operator angkutan umum bisa saja dilakukan oleh swasta. Tetapi negara yang memberikan izin kepada swasta untuk ikut di dalam menjalankan kegiatan pengangkutan umum. Negara harus menjamin bahwa pengelola angkutan umum itu profesional dan mampu membuat perjalanan warga dari satu tempat ke tempat lain berjalan baik dan aman.

Tidak bisa negara lalu lepas tangan dalam masalah tanggung jawab. Sekadar dianggap sebagai sebuah bisnis dan kemudian diukur sebagai persoalan untung-rugi. Pengelola angkutan umum memang harus untung agar mereka bisa terus memperbaiki pelayanan mereka, tetapi jauh lebih penting dari keuntungan, transportasi umum yang ditawarkan harus baik dan aman.

Oleh karena itu di banyak negara, penanggung jawab angkutan umum adalah pejabat yang mengurusi perhubungan. Ketika terjadi tabrakan kereta api di Jepang, Menteri Perhubunganlah yang tampil untuk menyampaikan permohonan maaf dan bahkan tidak jarang kemudian mengundurkan diri.

Pada bangsa-bangsa yang lebih maju, mereka selalu mengambil hikmah dari setiap  musibah. Bangsa lain selalu mau belajar dari kesalahan untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Bahkan mereka kemudian bergerak maju dari kesalahannya itu.

Kita bisa lihat pengalaman yang dilakukan China dalam membangun kereta api cepat. Kereta api Beijing-Shanghai yang baru mereka resmikan langsung mengalami musibah ketika pertama kali diluncurkan. Musibah tidak harus membuat mereka lalu melangkah mundur. Justru mereka terus maju untuk memperbaiki kekurangan yang ada.

Kita harus menjadi bangsa pembelajar kalau memang ingin menjadi bangsa yang maju. Untuk itu kita harus memiliki sikap untuk mau belajar dari kesalahan dan memperbaiki kesalahan. Tanpa itu maka kita akan menjadi bangsa yang terus terjerembab dalam musibah dan masalah.
 

0 comments:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | WordPress Themes Review